Medan


Yoseph Tien
Kota tua di Sumatera. Kota metropolitan. Ibukota Sumatera Utara. 22 Tahun sudah saya tinggal di kota ini. 22 November 1997, saya tiba di Medan. Malam Minggu, pkl. 19.30 WIB.
Medan adalah kota besar ketiga di Indonesia. Luas kota ini 265,1 km2. Memiliki 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan. Jumlah penduduk pada tahun 2015 tercatat di BPS sebanyak 2.210.624 jiwa. DPT 2019 tercatat 1,5 jutaan.
Saya kira, ini kota multietnis terbesar di luar Jawa. Di kota ini ada orang Melayu, Batak, Jawa, Sunda, Minang, Aceh, Tionghoa, India dll. Termasuk orang Flores seperti saya, yang juga punya komunitas di sini. Meski cuma ratusan orang. Hihi...
Karena banyak suku ini pula, otomatis Medan juga memiliki aneka ragam budaya. Termasuk juga makanannya. Medan adalah surga kuliner. Semuanya ada. Halal atau harum alias tak halal. Terbuka atau tertutup. Tergantung atau tersaji. Lokal atau interlokal. Semua jenis kaki panjang atau kaki pendek. Hehe...
Medan, yang sejarah awalnya dibangun oleh Guru Patimpus, di dekat Sungai Deli dan Sungai Babura, punya beberapa ikon. Bangunan bersejarah. Ada Istana Maimun. Istana Kesultanan Deli yang dibangun tahun 1888. Letaknya di jantung kota. Di depan Istana Maimun, ada Masjid Raya yang berdiri tahun 1906. Tak jauh dari Mesjid Raya, ada Menara Air PDAM Tirtanadi, yang selesai dibangun tahun 1908.
Di kawasan Kesawan, ada Rumah Tjong A Fie. Saudagar Tiongkok yang banyak berjasa dalam pembangunan awal kota Medan. Mengarah ke hilir, ada Gereja Katedral yang berdiri tahun 1879.
Di sekitar Lapangan Merdeka, ada Gedung London Sumatera, Gedung Bank Indonesia dan juga Kantor Pos Besar. Semuanya adalah bangunan Belanda dulu, yang hingga kini masih ada dan dipakai.
Di kawasan Kampung Madras, ada kuil Hindu tertua, Shri Mariamman yang berdiri tahun 1884.
Dekat kuil ini, ada Vihara Gunung Timur. Sebuah Vihara Tionghoa tertua di Medan. Berdiri tahun 1930.
Banyak sekali bangunan cagar budaya di kota ini.
Belakangan ini, agak ke pinggir kota di kawasan Sunggal, sudah ada Graha Annai Velangkani-sebuah Gereja Katolik dengan arsitektur India yang sangat antik dan eksotik. Tak jauh dari sini, ada penangkaran buaya Asam Kumbang.
Di daerah Marilan, ada Situs Purbakala Museum Kota Cina. Jejak purba kehadiran orang-orang Cina di Tanah Deli. Di sini ada Museum yang dirintis Prof. Ichwan Ashari. Di belakang museum dan masih satu komplek, ada markas Rumah Mata, kelompok teater pimpinan Mas Agus Susilo.
Orang Medan itu sangat terbuka, kritis, suka bicara blak-blakan dan terus terang. Terbuka pula untuk menerima para pendatang. Sangat bersahabat. Itu kesan pertama saya 22 tahun lalu. Sampai kini, kesan itu tetap ada. Belum berubah.
Besok tanggal 1 Juli 2019, Medan genap berusia 429 tahun. Tahun depan 2020, akan ada kontestasi politik lagi. Pemilihan Walikota Medan. Aromanya sudah tercium. Beberapa nama sudah muncul. Ada yang terang-terangan. Ada yang masih diam-diam. Padahal waktunya sudah dekat.
Jumat kemarin, bertempat di Literacy Coffee, rumah edukasi milik John Fawer Siahaan, kami terlibat diskusi dengan seorang wanita muda. Sekira 32 tahun. Pengusaha muda. Alween Ong. Dia sudah berbuat beberapa hal positif. Salah satunya MOWIE. Mobil wisata Medan berkonsep edukasi. Peraih Nexgen Fest 2019 dari Kementerian BUMN.
Untuk maju dalam kontestasi ini, konsep utama yang ditawarkan Alween: MEDAN sebagai City of Trader. Dia sudah mulai dari mamak-mamak, yang dikader menjadi pengusaha. Sudah ada 1.300 mamak-mamak pengusaha kecil, tersebar seantero Medan. Mau kenal siapa perempuan berdarah multi etnis ini, tanyalah sama Paman Google. Sayapun baru sekali ketemu beliau.
Yang menarik, meski kelak misalnya dia tak terpilih, semua program edukasi, entreprenership, produksi, industri kreatif, akan tetap berjalan.
Mantaplah pokoknya. Dia cerdas, berani, visioner dan siap melayani. Ini yang kumaksudkan mantap. Pemimpin itu pelayan. Spritualitas pemimpin sejatinya memang adalah pelayan. Walikota Medan adalah pelayan. Walikota bukanlah penguasa.
Tampaknya memang, spritualitas WALIKOTA ADALAH PELAYAN WARGA perlu diwujudnyatakan. Oleh siapapun Walikota kelak. Sudah dua Walikota yang 'sekolah' di hotel prodeo. Jangan sampai tiga kali, kayak judul lagu itu.
Walikota yang sekarang pun tak tahu saya, apa program unggulannya yang nyata dan bermakna. Mungkin saya kurang informasi. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.
Medan punya banyak masalah. Ada masalah rutin. Misalnya banjir. Ada masalah sampah, juga premanisme. Tapi apakah ini masalah sesungguhnya? Jangan-jangan ini hanya fenomena. Jangan-jangan masalah sesungguhnya ada pada karakter atau mindset manusianya. Entahlah.
Yang pasti, Walikota Medan 2020-2025 punya tugas yang teramat berat sekali. Kalau sungguh disadari. Dia wajib melayani warganya dengan sepenuh hati. Dia tahu apa kebutuhan warganya. Dia tahu apa potensi kota ini. Dia punya visi, mau dibawa ke mana Medan di masa mendatang.
Medan ini kota yang punya potensi dahsyat dan luar biasa. Pada semua sektor. Sumber daya alam, jasa dan industri, juga sumber daya manusia. Tinggal lagi kapasitas, kualitas, integritas dan diakonitas pemimpinnya.
Mari kita berdoa bagi Medan. Semoga kelak sungguh mendapatkan pemimpin sebagai pelayan sejati. Bagi warga kota ini.
SELAMAT ULANG TAHUN KOTA MEDAN.
Dari sebuah pojok Soetta, 30 Juli 2019
Yoseph Tien
(Foto: saya bersama Alween Ong di Literacy Coffee)

Posting Komentar

0 Komentar