KESUSASTRAAN KITA HARI INI

Diskusi Kuasa Sastra 
(Tanggapan Atas Buku Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam dan Sastra Perlawanan)

 Untuk memahami dominasi genre sastra yang populer hari ini, melalui teori kekuasaan dan pengetahuan Foucauldian, Okky Madasari menemukan tiga aktor kunci dalam sejarah kesusastraan kita, yaitu: negara, agama dan kapitalisme. Pada era kolonialisme sampai orde baru, dominasi sastra dipegang oleh negara. Sedangkan pasca orde baru, agama dan kapitalisme-lah yang memainkan peran penting. Hari ini, genre sastra didominasi sastra percintaan, motivasi dan islami. 

Namun disini, Islam tidak hadir sebagai cerita pokok. Nilai-nilai keislaman hanya hadir sebagai identitas dan tempelan, untuk melengkapi cerita utama: motivasi dan percintaan. Dan ketiga genre sastra tersebut rupanya hanya berfungsi sebagai hiburan, meninabobokan masyarakat, melahirkan semangat kesuksesan materi, hedon dan konsumtif yang tunduk kepada pasar kapitalisme. Dan hal itulah yang kemudian dianggap Okky berbahaya, dalam kesusasteraan kita hari ini. Meskipun ditulis hanya dalam satu paragraf, bagian tersebut saya rasa cukup menarik untuk dibahas.

 Sepertinya kondisi kesusastraan yang didominasi percintaan, motivasi (untuk kaya/keliling keluar negeri/hedon & konsumtif) dan islami (hanya sebagai tempelan) membuat Okky gelisah, sehingga membunyikan lonceng tanda bahaya. Namun Okky tidak menawarkan sebuah konsep solusi, untuk perseoalan tersebut. Karena memang buku ini ditulis bukan untuk mencari solusi persoalan tersebut, melainkan untuk mencari asal usul dominasi sastra novel dengan genre percintaan, motivasi dan religius. 

Untuk menyambut kegelisahan Okky tersebut, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Benarkah kondisi kesusastraan kita hari ini memang berbahaya? Memang kenapa kalau sastra bergenre cinta, agama, dan motivasi menjadi dominan? Memang kenapa kalau sastra berisi hedonisme, konsumerisme dan tunduk kepada kapitalisme menjadi dominan? Memang kenapa kalau sastra jatuh menjadi hiburan? 

Dan kenapa kalau masyarakat menghibur dirinya dan terninabobokan? Dan kenapa kalau masyarakat menjadi hedon, konsumtif, dan tunduk kepada kapitalisme? Apakah hedonisme, konsumerisme, dan kapitalisme merupakan sebuah kesalahan? Terkait hal itu, saya meyakini berbagai individu dalam mayatakat memiliki penilaian yang beragam soal hedonisme, konsumerisme dan kapitalisme. Ada yang menolak, ada yang setuju, atau ada yang ragu-ragu, atau bahkan tidak tahu, meskipun telah dipraktekkan tanpa disadari. 

Oleh karena sastrawan merupakan bagian dari masyarakat, para sastrawan pun pastinya memiliki pandangan yang beragam dalam menilai hedonisme, konsumerisme dan kapitalisme. Melihat situasi sekarang, kemenangan sastra berisi hedonisme, konsumerisme, dan kepatuhan terhadap kapitalisme merupakan kekalahan bagi sastrawan penolak l konsumerisme, hedonisme dan kapitalisme.
 Pada tulisan ini, saya tidak akan membahas soal salah benarnya hubungan antara hedonisme, konsumerisme dan kapitalisme dengan dunia kesusastraan. Bagi saya sastra adalah bagian kesenian yang bernafaskan kreatifitas yang hanya bisa beroperasi bila tidak dibatasi dalam satu jenis karya sastra tertentu. 

Kesusastraan harus diberikan ruang untuk dimasuki segala genre karya sastra. Atau dalam artian kebebasan bersastra diperlukan untuk menjadi kreatif. Disini saya tidak bermaksud mengatakan sastra bebas nilai. Sebab, karya sastra selalu terikat dengan ruang dan waktu. Karya sastra diciptakan bukan di ruang hampa, tapi selalu diciptakan di kelompok masyarakat, yang memiliki situasi politik, ekonomi, nilai dan norma tertentu. Dan setiap karya sarya sastra selalu politis, dalam arti berkepentingan dan berpihak. 

Maka meskipun saya sepakat bahwa kegiatan bersastra harus bebas, saya tak menampik keberpihakan yang termuat dalam karya sastra. Setiap sastrawan selalu memiliki kepentingan dan keberpihakan. Akan tetapi, memaksakan ideologi, genre, aliran dan kriteria tertentu untuk diseragamkan dalam karya sastra, itulah yang saya tolak. Lalu saya ingin kembali kepada pertanyaan awal di atas. Benarkah kesusasteraan kita hari ini dalam kondisi yang berbahaya? Jelas tidak. Itulah kondisi kesusastraan yang diharapkan, bagi mereka: para sastrawan yang mendukung kapitalisme, hedonisme dan konsumerisme. 

Maka jelaslah, bagi kita yang tidak berpihak kepada kapitalisme, konsumerisme dan hedonisme kondisi kesusastraan kita sedang berbahaya. Sudah saatnya kita panaskan bara api sastra perlawanan kita untuk menolak kapitalisme, konsumerisme dan hedonisme yang secara terselubung termuat dalam sastra percintaan, motivasi dan islami. Dan hal itulah yang perlu kita diskusikan solusinya. Terakhir: Kaum sastrawan anti kapitalisme, kosumerisme dan hedonisme, bersatulah! 

 Robby Fibrianto Sirait 
 Pembaca karya sastra

Posting Komentar

0 Komentar