Puisi-Puisi Bung Novenra Purba

I
Aku Menulis

Aku menulis bukan hanya mengatakan
Aku menulis bukan hanya menyatakan
Tapi......
Aku menulis untuk menginginkan
Aku menulis untuk memiliki

Hawa datang atas nama cinta
Hawa datang atas nama kasih
Begitulah ku kenal kau
Ketika ku erat tanganmu

Bidadari yang berjubah kilau putih sutra dan bersayap emas serupa denganmu
Parasmu memang luar manis terlihat nan
Paras dalam batinmu lebih indah dan tampak mendamaikan hati seorang Adam

Bila ku erat tanganmu kutentukan masa depan
Bila ku kecup pipimu aku milikmu 
Mari sini Hawaku temani aku untuk membuka pintu masa depan itu......  







II

Dunia Fana, Perasaan Abadi 

Waktu adalah fana
Karna detik tak slamanya detik
Karna menit tak selamanya menit 
Begitu juga jam akan jadi hari
Lain ini, ketika Adam jatuh kepada Hawa
Begitulah aku kepada dirimu 
Aku menarik nafas tak slamanya 
Jantungku berdetak alirkan darah kan juga berhenti
Begitupula ragaku kan jadi jasad
Dan rohku kan kembali kepada Esa 
Aku berbincang dengan alam jawabnya sama
Aku berilmu dengan dunia hasilnya serupa 
Ketidakpastian hidup dan kefanaan dunia adalah kekal 
Namun Tuhan bentuk satu keabadiaan di jagat ini
Itulah perasaanku jatuh kepadamu 
Layaknya Adam kekal dengan Hawa hingga berujung maut tanam rasa 






III

BOSAN DENGAN HARI 

Si Surya selalu terbit di timur dan tenggelam bersama petang barat
Si Purnama muncul setelah terang hilang juga gelap menjelang 
Bintik kilau bintang muncul di sekitaran langit pekat 
Selalu begitu biasa saja 
Anak menangis minta uang pada bapak 
Ibu bercucur keringat pulang dari pasar 
Bapak dan motor bututnya pergi cari nafkah
Tiap hari-hari biasa yang sama 
Duduk dan berdiri diluar memandang debu jalan 
Berjalan dan berlari diantara para pekerja
Marah, tawa, sedih, dan kebohongan muncul di hari-hari 
Masih sama dengan kemarin 
Hanya bosan yang menjadi taman sejati 
Dan sepi selalu mengisi hari di taman bosan itu

Tentang Penulis 

Orangtua sering manggil aku Nopen sesuai nama belakang yang bermakna berharap hidup tanpa penderitaan ( No Pain) dibaca Nopen, Pria berdarah Batak yg lahir di hari pahlawan Indonesia yang berusaha terus berjiwa nasionalisme dan patriotisme.

Posting Komentar

0 Komentar