Aku dan Kopi (01)

Oleh Aishah Bashar 

Aku ingin menjadi seorang penikmat kopi. Kopi hitam. Sejak dulu.  Tetapi selalu gagal. Entah bagaimana komposisi di dalam lambungku sehingga ia - lambung itu - marah dan menyakitiku setiap usai minum kopi.  Selalu kucoba lagi dan lambungku marah lagi. Tak sudi ia kompromi dengan kopi, sebanyak apapun cara kubuat.

Keinginanku menjadi seorang penikmat kopi terus bersemayam, jadi semacam dendam kesumat.
Oh, jangan minum kopi manis. Baiknya kopi saja, tanpa gula. Itu akan berhasil membujuk lambungmu agar tak marah-marah. Begitu nasehat beberapa artikel, beberapa kawan yang pengopi, beberapa ahli kopi, dan barista.

Tinggalkan kopi yang biasa diolah campur jagung atau lain-lain. Minumlah kopi biji asli. Lanjut para pesaran.
Oh oh...begitu ya?
Baiklah, akan kucoba.
Maka sejak Januari 2018 kumulai lagi perjuangan meraih keinginan untuk menjadi seorang penikmat kopi. Kopi murni. Biji-biji yang diroasting, lalu digiling saat hendak disajikan. Jadilah dia.
Kuhirup. Kuseruput.
Ya. Ya. Kopi sungguh jujur.
Dia tak pernah berpura-pura manis

( Barus, 02102020 )
#30harimenulistentangkopi.

Posting Komentar

0 Komentar