Kopi Socrates dan Pikiran Saya yang Menggelinjang ( Bag.1)



*Sebut Saja Tedy
Hujan turun di sore yang sedikit berasap. Teh susu setengah gelasku di atas meja sedang berhadap-hadapan dengan lima gelas kopi “Socrates”. Saya memandangi teh susu yang saya pesan dan gelas-gelas  kopi “Socrates” pesanan kawan-kawan saya. Mereka sedang asyik membincangkan seputar film. Saya asyik mendengarkan perbincangan mereka, sambil memikirkan nama-nama minuman kami di atas meja. Sementara lidah saya, sibuk mencecap rasa “sedikit manis banyak pedarnya” dari asap kretek yang berdesakan di dalam mulut. Bibir saya, mencari-cari jejak rasa dari bibir kekasih di malam-malam purnama.
Lambat laun, tentang nama-nama minuman di atas meja itu, lebih mendominasi pikiran saya. Frasa teh susu, tidak menimbulkan banyak pertanyaan. Bila teh dicampur dengan susu, maka frasa teh susu, faktual adanya. Meskipun akan lebih tepat bila diberi frasa teh ‘condensed milk’. Sebab apa yang disebut ‘susu’ yang dicampurkan kedalam teh pesanan saya itu, bukanlah susu yang ‘susu’, melainkan susu yang telah dihilangkan kandungan airnya lalu dicampur dengan gula dan lemak, sehingga apa yang disebut ‘susu’ itu bukanlah susu yang sebenar susu, seperti susu yang dihasilkan ibu sapi, ibu kera, ibu manusia, dan segala ibu dari jenis mamalia yang jaya di daratan, lautan serta udara.
Suara guruh dari petir (yang entah dimana menyambar apa) mengalihkan sejenak pikiran saya dari nama-nama minuman di atas meja itu, kepada ingatan akan berita tentang Ponari.  Saya, kemudian iseng bertanya pada otak saya; “hey Tak, kenapa suara guruh, mengingatkanmu akan Ponari dan batunya, dan gelas, dan air di dalam gelas, dan air di dalam gelas yang tumpah sejumlah massa jenis batu yang dimasukkan ponari kedalam gelas, dan orang-orang yang mengantri, dan orang-orang yang mengantri meminum air dari gelas yang ada batu yang dimasukkan Ponari, dan orang-orang yang minum air itu, dan orang-orang yang mengaku sembuh, dan biaya rumah sakit, dan uang kuliah jurusan kedokteran, dan BPJS dan seterusnya yang pakai dan?”.
Otak saya memproses pertanyaan iseng itu (betapa ‘lugu’nya otak saya ) sebelum kemudian otak saya, dengan kelicikannya, ‘menajamkan’ pendengaran saya, lalu mengalihkan perhatiannya (otak saya-pen) pada perbincangan kawan-kawan saya, benar-benar sebuah upaya licik yang indah untuk menghindari pengakuan bahwa dia (otak saya-pen) tidak dapat menjawab pertanyaan iseng itu.
Kawan-kawan saya semakin asyik membincangkan soal film, tetapi perbincangannya sudah lebih mengarah kepada pemeran utama dalam  film-film yang mereka perbincangkan (lagi-lagi otak saya butuh waktu untuk menyadari kegagalannya menautkan nama-nama pemeran utama dengan data yang pernah ada dan direkamnya).
Kawan-kawan saya itu, benar-benar  kawan saya, tetapi belum benar-benar menjadi kawan bagi otak saya. Otak saya kembali melakukan ‘lompatan kelicikan’ yang indah. Dia kembali memproses nama-nama minuman di atas meja. Kali ini dengan sedikit ‘agak’ mengalah.
“Baiklah, untuk meminimalisir kompleksitas variabel yang ada, maka, bila seandainya ‘condensed milk’ telah menjadi susu yang sebenarnya susu dalam pandangan kultur yang ada, maka frasa teh susu, berasal dari teh yang dicampur dengan susu. Oleh karenanya, Kopi Socrates adalah kopi yang dicampur dengan ?”
“ Oh, apakah Socrates dapat larut didalam air? Apakah Socrates berdiameter lebih kecil dari diameter gelas kopi di atas meja? “
Begitulah kira-kira pertanyaan yang di lontarkan otak saya kepada saya. Bersebab saya, sangat mengasihi dan mencintai otak saya, maka saya memutuskan untuk membantunya, setelah mengecewakannya beberapa kali. Saya mengambil ponsel yang katanya pintar milik tangan dan mata saya, kemudian menyampaikan pertanyaan saya pada algoritma mesin pencari Google yang maha tahu tetapi belum tentu maha benar. Begini kira-kira hasil pencarian yang saya temukan :


Ternyata Socrates adalah makhluk yang disebut oleh makhluk hidup yang mengaku manusia sebagai manusia lainnya. Kemudian manusia menyebut Socrates sebagai filsuf.
“Semua filsuf berasal dari golongan manusia”, “ Socrates adalah seorang filsuf” begitu gumam otak saya.
“Jika manusia dapat memahami bahasa hewan dan tumbuhan secara utuh menyeluruh, maka manusia adalah filsuf yang sebenarnya”, “Manusia tidak dapat memahami bahasa hewan dan tumbuhan secara utuh menyeluruh” Otak saya kembali bergumam.
Atas dasar kasih sayang dan cinta akan kesehatannya, maka dengan lemah lembut, saya meminta otak saya untuk berhenti bergumam. Otak saya menurut (sebab kelicikannya) dan kembali memproses informasi dari Wikipedia yang di perkenalkan oleh google, jari dan mata saya kemudian menautkannya dengan pertanyaan “Apakah Socrates dapat larut di dalam air?” dan pertanyaan “Apakah Socrates berdiameter lebih kecil dari diameter gelas kopi di atas meja?”
Kawan-kawan saya, mulai berdebat soal pemeran utama dari film mana yang lebih cantik. Mereka menyusun argumentasi mereka masing-masing berdasarkan ukuran dan bentuk dari bagian tubuh masing-masing “jagoannya”, selain warna kulit dan intensitas adegan ranjang dalam film-film yang pernah ‘dibintangi’.  Saya sangat menikmati perbincangan mereka itu, sambil merekonstruk gambar dan adegan di dalam otak kesayanganku. Mereka benar-benar kawan-kawan ‘kesayangan’ yang layak kupanggil ‘bosque’. Tetapi mereka belum dapat menjadi kawan-kawan yang dapat dipanggil ‘bestque’ oleh otakku. Sebab ternyata otakku kembali menggelinjang diserang ‘birahi penasaran’ soal ‘kopi socrates’.
Atas dasar kasih sayang dan cinta akan kesehatannya, maka dengan lemah lembut, saya menggiring otak saya untuk menuntaskan birahinya itu. Saya hendak bertanya pada kawan-kawan saya perihal kopi Socrates itu, tetapi urung, sebab saya mencintai otak saya. Bukan berarti kawan-kawan kesayangan saya itu tidak dapat membangun argumentasi logis terkait Kopi Socrates yang berdiam manja di dalam gelas di atas meja itu, tetapi, sesadar-sadarnya kesadaran, saya memahami bahwa selogis apapun argumentasi yang dibangun oleh kawan-kawan saya itu, maka argumentasi-argumentasi itu pada akhirnya, hanyalah tafsir atas Kopi Socrates. Sebab kawan-kawan saya itu, bukanlah sumber pencetus dan atau pencipta ‘Kopi Socrates’ itu. Oleh karenanya selogis apapun argumentasi yang dibangun oleh kawan-kawan saya itu, akan jauh dari faktualitas akan Kopi Socrates yang berdiam manja di dalam gelas di atas meja.
Mengetahui kesadaran yang saya bangun itu, otak saya ‘mencium’ mesra dinding dalam ubun-ubun kepala saya (saya tidak tahu, apakah otak saya punya tentakel atau tidak). Saya kemudian memutuskan meninggalkan perbincangan yang bertambah-tambah menyenangkan (kawan-kawan saya sudah mulai membahas soal kamasutra dan ‘kamar dagang daging’), saya menjumpai pemilik warung kopi, lalu menanyakan perihal ‘Kopi Socrates’.
Biji kopi yang digunakan berasal dari Lintong, Sipahutar dan Gayo,  Jenis Arabica. Jenis biji kopi itu kemudian dipanggang hingga level medium lalu di ‘giling’ sampai halus. Pada fase ini belum ada percampuran biji kopi itu dengan Socrates. Air mineral direbus hingga mendidih lalu di diamkan selama dua hingga tiga menit. Empat sendok bubuk kopi tadi di tuang kedalam gelas kopi lalu di seduh dengan air mendidih yang telah di diamkan tadi. Pada fase ini juga belum ada percampuran antara kopi dan Socrates. Otakku menunggu, saat-saat penjabaran proses pencampuran antara kopi dengan Socrates.
“Kapan kopinya di campur dengan Socrates bang?”
: Pada saat saya mengaduknya.
Penjelasan pemilik warung kopi itu membuat otak saya semakin menggelinjang (oh, betapa lugunya otak saya)
: Pada saat saya mengaduk itulah, saya mencampur Socrates kedalam kopi, hingga kopi ini, saya beri nama ‘Kopi Socrates’
“Bagaimana caranya?” Kesadaran saya menolak Penjelasan pemilik warung kopi. Otak saya sepakat dengan kesadaran saya. Pemilik warung kopi itu kemudian membisikkan jawabannya ditelinga saya. Otak saya kemudian gagal membangun struktur logis dalam proses penalarannya, oleh karenanya saya tertawa lepas. kopi Socrates itu, kemudian singgah ke dalam mulut saya sebelum ‘bergerilya’ ke kerongkongan hingga ke toilet terdekat. kesadaran saya, memaksa bibir saya tersenyum. Bibir saya, masih mencari-cari bibir kekasih yang tak lagi dapat dijangkau mata kabarnya.
Saya kemudian memesan segelas kopi pada pemilik warung itu. Pemilik warung itu, lantas tertawa lepas sembari berteriak sekencang-kencangnya; “Siaaap, Kopi Marhia Ohzawa, akan segera di antar!”
Pemilik warung kopi itu mengisi gelas kopi dengan empat sendok bubuk kopi, lalu menyeduhnya dengan air mineral yang direbus hingga mendidih lalu di diamkan dua hingga tiga menit. Tatkala mengaduknya, Pemilik kopi memejamkan matanya, kemudian mengaduk kopi itu perlahan-lahan sambil senyum-senyum sendiri.

 *penulis adalah pemalas yang jarang keramas



Posting Komentar

1 Komentar