DIALOG TELEPATI DUA PASIEN RSJ


"Kita kawin sajalah!  Harusnya ada yang menjagamu."

"Kenapa kau pikir aku perlu dijaga? " 

"Kau memang bandel. Lagian kan memang takdir laki-laki dan perempuan untuk berpasangan, Sayang. "

"Kan sudah pernah kubilang...  Aku sangat yakin aku ini bukan perempuan. "

"Nah,  ngawur lagi! "

"Bukan ngawur!  Aku ini spirit,  tau.  Bukan perempuan. "

"Kau perempuan. Sangat perempuan, Sayang.  Sini,  biar kucium bibirmu supaya kau sadar betapa perempuannya kau ini. "

Aduh,  kau kok ngotot sekali.  Aku ini makhluk liar soliter,  tak cocok hidup berkelompok. Dalam kelompok, aku hanya menyakiti yang lain dengan keganasanku, kekejamanku. Semua yang ada di sekitarku,  betapapun sayang aku pada mereka,  betapapun sayang mereka padaku,  semua pasti terluka. Aku ini membawa luka,  harusnya kau jauhi aku. "

"Diamlah.  Kau ini meracau apa!  Tak ada makhluk yang benar-benar soliter.  Kau memang terlalu keras, terlalu kejam.  Pada dirimu sendiri.  Yang kau perlukan adalah orang yang mau kaulukai bila perlu,  mau menanggung amarahmu, keliaranmu dan semuamu.  Yang kau perlukan itu dada yang cukup luas menampung kepalamu yang sibuk dengan keriapan pikiran-pikiran aneh,  wajahmu yang basah keringat, ludah dan air matamu waktu kau mengamuk. Yang kau perlukan itu bibir kokoh yang mampu menyumbat semua racauan makin ngawurmu. Kemarilah! " 

"Aduh. Kau harus pergi sekarang.  Sebelum kau pun terluka.  Aku ini, seperti kata Chairil,  aku ini binatang jalang,  dari kumpulannya terbuang. "

"Shhh,  diam!  Kau makhluk tersayangku,  seperti kata Titik Puspa, kau embun pagi, kau matahariku. " 

"Kau ini...  Dasar maniak hiperromantika! " 

"Biarin.  Kau lebih parah. Masokis melankolisku yang manis! " 

MN, Februari 2019

Posting Komentar

0 Komentar