Tulisan Kak Sri RM Simanungkalit

Sore ini, selain bicara tentang proses produksi film "A Thousand Midnights in Kesawan", kami juga bicara soal kegiatan filantropi. 

Ada satu kesalahan yang sering dilakukan oleh aktifis, yaitu kerap 'terjebak' menjadi pahlawan yang berjuang sendirian. Padahal, sejatinya jalan perubahan adalah menularkan kegelisahan, menularkan semangat untuk berbuat kebaikan. Sehingga kepedulian menjadi bola salju yang bergulir semakin besar dan semakin besar. 

Literacy Coffee atau kerap disebut Lico adalah sebuah pusat literasi di Medan yang digabungkan dengan konsep kedai kopi. Belakangan menjadi tempat mangkal dan diskusi. Berbagai tokoh kerap menjadi narasumber di Lico. Segala macam isu diangkat di Lico. 

Tak terhitung berapa kali Lico jadi pemberitaan koran, majalah, radio, televisi baik tingkal lokal maupun nasional. Namun setiap tahun, Lico berhadapan dengan masalah klasik, perkara bayar kontrak rumah. Sungguh sebuah ironi. 

Saya dan Diana Srimilana Saragih memprovokasi Jhon Fawer Siahaan untuk menggalang gerakan "Sahabat Lico", agar ada donatur tahunan yang bisa berkontribusi ke Lico. 

Melalui status ini, saya juga memprovokasi agar teman-teman yang bersimpati dengan Lico, teman-teman yang sering nongkrong di Lico, teman-teman yang kerap jadi narasumber di Lico,  ayo bantu Lico! 

Percayalah, di balik wajah sok tegar seorang Jhon, sebenarnya Jhon ingin kita temani...
Sumber : Facebook Sri RM Simanungkalit

Posting Komentar

0 Komentar