Khotbah Bapak Tadi Pagi

Oleh : Pdgsgk
Hari minggu adalah hari yang di tunggu tunggu anak anak. Paling tidak kami bisa pergi ke gereja dangan penuh suka cita. Bernyanyi bersama dengan kawan kawan. Mendengar khotbah, dan yang paling asyik adalah ketika meminta uang kolekte ke orang tua, saat itu, kita punya kesempatan untuk memiliki uang jajan. Orang tua biasanya akan memberi uang Rp. 500,- dan Rp. 400,- menjadi jajan kita. selebihnya adalah kolekte.

Aku seperti yakin, hal ini merupakan salah satu bentuk korupsi di tingkat anak anak. Tetapi itu hal yang lumrah bagi kami. Sudah rahasia umum.

Di tengah kampung yang miskin ini, tentu memiliki uang jajan adalah hal langka, kesempatan memiliki uang itu hanya ada saat keluarga dari kota pulang dan yang kedua di hari minggu saat akan pergi ibadah. Hanya itu.

Seperti biasa aku juga ikut serta dalam kebahagiaan ini. Pagi pagi aku akan ikut ke gereja untuk menjemput kebahagiaanku. Cuci muka, memakai baju terbaik yang hanya satu pasang dan selalu kupakai kegereja dan  di saat ada acara Formal. 

Demikian juga Bapak, dia akan bersiap siap pergi ke Gereja untuk mengajar anak Sekolah Minggu. Biasanya dia akan kutinggalkan di belakang, dan saya akan berjalan bersama dengan kawan kawan.

**
Kali ini, penghujung bulan, Bapak mengambil sikap dan berkhotbah, bahwa setiap Manusia harus saling berbagi. Bahwa setiap manusia harus saling mengasihi.

Dia menyuruh kami untuk mengingatnya dan melakukannya kepada saudara saudara kami. 
Apalah yang kami ketahui selain mengiakannya. Bagi kami, apa yang di khotbahkan adalah Fatwa. Bagi kami, sebagaimana Bapak berkata, saudara saudara harus dikasihi seperti mengasihi diri sendiri. Bapak berkata, itulah yang Yesus ajarkan kepada  umat Manusia.
Kami mengerti Pak, sahut anak anak sekolah minggu. Kemudian setelah itu kita pulang dan merenungi khotbah tadi. Merenungi lagu lagu kami sambil menyanyikannya di perjalanan.

Setelah itu, kami memilih jajan di kedai, membeli jajanan seperti kerupuk atau gorengan. Hanya itu yang bisa kami beli. Kami akan berbagi satu sama lain dalam hal makanan, sengaja kami membeli dari jenis yang ber beda beda supaya semua jenis bisa dinikmati. Setelah itu, kami akan pulang kerumah masing masing.

Sesampainya di rumah, aku mengganti pakaian. Kemudian beberapa saat setelah itu, kudengar suara piring pecah di dapur. Suara rintihan, kemudian ibu menangis. Bekas tamparan berbentuk jari di wajahnya memerah. Sekilas aku mendengar ibu berkata, aku hanya memberi sedikit dari yang kita punya, mereka hanya membutuhkan sesuap nasi, hanya itu, mereka juga adalah tetangga kita. Kenapa pula kau harus melarang aku. Sahut ibu sembari keluar rumah.

Ya, mereka memang tetangga kita, tetapi jangan salah, mereka itu musuh kita. apa kau lupa siapa yang mencuri kopi kita beberapa hari yang lalu dari ladang ? 
Dengan gumam kecil ibuku juga berkata, mereka tidak akan mencuri jika tanah yang mereka miliki kemarin tidak terampas oleh pengusaha kopi terkenal itu, kau tentu tahu itu. Bukankah campr tanganmu juga yang mempercepat terampasnya tanah itu melalui lobi lobi mu ?

 Aku geram, aku terbayang tadi pagi di Gereja, lalu aku menghampiri Bapakku, ku bilang, pak, kau bukan Saudaraku dan kau bukan pengikut Yesus . Jangan lagi kau berkhotbah di Gereja dimana aku mengukir kebahagiaanku. 

Aku tidak tahan membayangkan keadaan itu. Ah, betapa hinanya manusia itu. Tidak di sesuaikannya khotbahnya dengan perilakunya. Ahh…

Posting Komentar

0 Komentar