Jangan Takut Hamil karena Berenang!


Ketika pernyataan Komisioner KPAI Sitti Hikmawaty yang menyebutkan kalau perempuan bisa hamil karena berenang bareng lawan jenis, sebagian dari kita tertawa, menjadikannya meme, dan menganggapnya sebagai suatu tindakan terabsurd di negara +62 tahun 2020 ini.
Tapi kalau kita mau melakukan perenungan lebih dalam, pernyataan hamil lewat berenang ini menunjukkan seberapa primitif informasi terhadap seks. 

Itulah yang terjadi ketika seks menjadi tabu untuk dibicarakan, didiskusikan di ruang-ruang publik, terutama di lingkup keluarga.
“Aku baru tahu kalau yang selama ini guru lesku lakukan adalah seks eksibisionis,” kata V, menceritakan pengalamannya melihat guru lesnya masturbasi, ketika dia duduk di kelas 1 SMP.
“Oh ternyata saluran pipis dan klitoris itu berbeda ya,” kata W, perempuan berusia 30-an tahun.

Kenapa seks menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan? 
Jauh dari maksiat, terhindar dari pelecehan, menjunjung moralitas, adalah alasan-alasan klise kenapa seks ditutup serapat-rapatnya. Justru mendapatkan informasi seks yang tepat akan membantu mencegah terjadinya pelecahan. 

Buku “Akibat Menabukan Seks” adalah kumpulan esai mengenai seksualitas, seks edukasi, dan urban life. Buku ini tidak hanya membahas mengenai pentingnya edukasi seks tetapi juga pentingnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam melakoni seksualitas itu sendiri.
Bukan bermaksud mengglorifikasi atau “lagi-lagi” menempatkan perempuan sebagai korban. Tetapi, sebagai manusia yang lahir dari produk patriarki perempuan kerap menjadi pihak yang dirugikan dalam seks.

Kalau kamu pernah mendengar anekdot, “perempuan memberikan seks untuk mendapatkan cinta sedangkan laki-laki memberikan cinta untuk mendapatkan seks”, ternyata situasi ini masih terjadi. 
“Aku maunya sih kami ML setelah sudah resmi pacaran, tapi dia mendesak terus,” kata A menceritakan interaksi laki-laki yang sedang dekatnya. Perempuan punya kecenderungan memberikan “segala” untuk mengikat laki-laki.

Ketika kita membicarakan seks sebagai komoditi untuk melanggengkan interaksi ini, lagi-lagi perempuan menjadi pihak yang dirugikan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Rutgers University, New Jersey, disebutkan kalau kenikmatan seks memberikan sensasi yang berbeda kepada perempuan dan laki.
Aktivitas seks dan orgasme menghasilkan bonding dan ‘baper’ akibat dari kerja hormon oksitosin pada perempuan. Sedangkan pada laki-laki, hormon dopamine bekerja lebih maksimal dan sehingga yang lebih dikuatkan adalah pleasure-nya. 

Di luar dari korban perasaan, dampak dari hubungan seks tanpa pengaman adalah penyakit seks menular. 
“Akibat Menabukan Seks” bisa kamu dapatkan di @literacycoffee, dan bakal ada diskusi renyah nan gurih di @literacycoffee, Jumat 6 Maret 2020. Mari ramaikan teman-teman! (lico)

Posting Komentar

0 Komentar