TRADISI ABAL - ABAL, PETI MATI MASYARAKAT BATAK TOBA

Manguji Nababan

Tradisi Abal-abal kadang disebut 'Parmualmualan' adalah peti mati yg terbuat dari satu kayu utuh (dikorek). Biasanya dari pohon nangka, jabi-jabi (jenis pohon bergetah). Namun ada kalanya dibuat dari pohon enau yang cukup besar.  Pohon yg akan dijadikan peti mati ini sudah dirawat sejak org yg akan menggunakan peti ini sewaktu dia hidup. Jadi ada upaya pelestarian hutan untuk mendapatkan pohon seukuran peti mati. Sebab ukurannya abal-abal koleksi museum Sumut; panjangnya 2.20 dan lebar 1.20.

Menjelang dia meninggal, peti mati ini sudah siap dibuat oleh pande (tukang). Dalam pembuatan abalabal selalu dilakukan dengan tahapan ritual adat "Mangalap dan Pamuli tukkang". Mulai dari menebang kayu sampai abalabal siap dikerjakan.
Abal-abal


Semasa hidupnya, adang kalanya si calon penghuni abalabal masuk ke peti itu.  Terkadang dia meminta kerabat/keluarga "mangandungi" dia, supaya suara andung itu dia bawa kelak ke liang kubur, rumah keabadiannya. Di dalam alam lain yg ditujunya, dia akan menceritakan betapa kerabatnya membekali dia dengan tembang andung yg syahdu dan mengharukan di saat perpisahan mereka.

Secara spritualitas, bentuknya penutup peti itu dibuat menyerupai perahu.  Alasannya adalah bahwa menurut kepercayaan kuno Batak, diyakini perahu lah kendaraan yg membawa rohnya menuju surga. 

Peti mati seperti ini tidak menggunakan paku hanya di "rompu" diikat pake rotan yg sudah di anyam. Peti mati ini sering dihias ornamen (gorga) yang sarat dengan makna estetik- filosofis. 

Jaman dahulu, hanya orang yg dianggap tokoh (raja), gabe (bercucu-bercicit) dan tergolong orang kaya yang diperkenankan menggunakan abalabal. Rencana marabalabal, sering "dipaandar", diberitahukan pada saat acara pasahathon, memberikan "Sulangsulang so Haroapon" yg disampaikan segenap kerbat keluarga. Pesta adat kematian marabalabal,  harus meriah; menyembelih kerbau 'sigagat duhut' sebagai "boan" dengan adat "marpansa", jambar dijatuhkan dari altar/pansa. Adat partuaon harus membunyikan gondang sabangunan (maungmaung ni namora).

Tradisi marabal abal sudah sangat lama hilang dalam tradisi Batak Toba. Tradisi  marabalabal yang terakhir adalah peti mati Raja D.L Sitorus (tahun 2019).  Konon biaya pembuatan abalabalnya sangat mahal, sebesar Rp. 50.000.000.

4 (BUAH) NASKAH BAMBU KOLEKSI MUSEUM SUMATERA UTARA:

Naskah Bambu


Naskah bambu pada gambar di bawah, berisi  tentang ramalan/nujum sbb:

1. Koleksi no. Inventaris 129; panjang 2.22, 5 ruas diameter pangkal 22 cm, ujung 20 cm. Berisi tentang Tonggotonggo Sianjur mulamula dan tonggo tonggo Bakkara.

2. Koleksi no. Inventaris 131; panjang 1,23 (3 ruas). Diameter pangkal, 17 cm dan ujung 15 cm. Berisi tentang Ramalan Ari natolu pulu.

3. Koleksi no inventaris 128. Panjang 1,15 cm (3 ruas) diameter pangkal, 17,5 dan ujung 16,5.

4. Koleksi no inventaris 130. Panjang 1.66 (5 ruas). Diameter pangkal 21 cm  dan ujung 18 cm.
Berisi tentang, Ramalan & mantra penyembuhan.

Disampaikan oleh Manguji Nababan dalam Seminar: "Kajian Naskah Bambu (pustaha pada bambu) & tradisi Abalabal, peti mati pada Masyarakat Batak Toba" - Kerjasama Museum Prov. Sumatera Utara dgn Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab.Toba.
Bertempat di Kantor Bupati Kab. Toba, 9 July 2020 Kegiatan produktif dg ikuti Protokol kesehatan.

Posting Komentar

0 Komentar