Aku dan Kopi (06)

Oleh : Aishah Bashar
Suatu kali aku bertemu kawan-kawan penikmat kopi pahit dalam sebuah obrolan yang manis. Tidak sampai sepuluh orang. Kami berkumpul di kedai kopi milik kawan yang sengaja mengundang kami untuk pertemuan itu. 

Sang tuan rumah pun menanyai tamunya satu persatu, mau kopi apa. Rata-rata minta kopi tubruk, dua yang lainnya minta kopi latte machiato.

Ternyata ini kali permintaan kopi tubruk tak selesai sampai di situ. Kawanku sang pemilik kedai memberikan tawaran sebagai tantangan. Kopinya mau yang level satu, dua, atau tiga?

Oh ya? Pakai level? Maksudnya?
Level tiga pahitnya sampai ke lidah.
Level dua sampai kerongkongan.
Level satu sampai ke perut.

Ada yang langsung paham, ada yang masih mengerutkan dahi, termasuk aku. 
Pahitnya sampai ke perut? Bagaimana merasakannya. Duh, mungkin seperti pahitnya kenyataan yang baru kualami. Kopi oh kopi. 
Kau benar-benar mengejekku sekarang. Ingin sekali kuganti pesananku dengan teh manis madu atau jus buah anggur untuk penawar kepahitan hidup.
Jadilah aku orang terakhir yang harus menentukan minuman. Kopi, teh, jus, kopi... Bukankah hidup ini seperti kopi? 
Baiklah.
Aku pesan kopi tubruk level satu.
( Barus, 07102020)

#30harimenulistentangkopi

Posting Komentar

0 Komentar